LDII Kota Bandung Gelar Refreshment Training Metode Tilawati, Tingkatkan Kompetensi Dewan Pendidik
BANDUNG — Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Bandung melalui Bidang Tenaga Pendidik Pembina Generasi Penerus menggelar Pelatihan/Refreshment Training Metode Tilawati bagi para guru dan dewan pendidik generasi penerus LDII Kota Bandung. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu, 19–20 September 2026, di GSG Sabilul Muttaqin, Buah Batu, Kota Bandung.

Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya meningkatkan kompetensi dan menyegarkan kembali pemahaman para pendidik dalam menerapkan Metode Tilawati pada pembelajaran Al-Qur’an. Pelatihan diikuti oleh para guru dan dewan pendidik generasi penerus LDII Kota Bandung.
Hadir sebagai pemateri, Dimas Tri Apriansyah dan Ade Irham Nurfaisal, yang merupakan Dewan Guru Tilawati Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri. Sementara pembinaan kegiatan diberikan oleh Tri Sugiharto selaku Dewan Pembina Tenaga Pendidik.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan penguatan materi sekaligus praktik mengenai penerapan Metode Tilawati dalam proses pembelajaran Al-Qur’an. Metode tersebut diarahkan agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara praktis, efektif, dan menyenangkan, sekaligus menyesuaikan dengan karakteristik generasi penerus.

Dimas Tri Apriansyah menjelaskan bahwa kemampuan seorang guru dalam mengajarkan Al-Qur’an tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga bagaimana materi tersebut disampaikan kepada peserta didik. Menurutnya, seorang pendidik perlu memahami karakteristik anak agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
“Dalam mengajarkan Al-Qur’an, guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga harus mampu menyampaikan pembelajaran dengan cara yang mudah diterima oleh peserta didik. Karena itu, metode dan teknik mengajar menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran,” ujar Dimas.
Ia menambahkan, kegiatan refreshment menjadi kesempatan bagi para pendidik untuk kembali mengingat dan memperkuat prinsip-prinsip dasar Metode Tilawati. Dengan adanya penyegaran tersebut, diharapkan para guru dapat lebih percaya diri dan konsisten ketika menerapkannya di tempat masing-masing.
Menurut Dimas, pembelajaran Al-Qur’an juga perlu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan tujuan utama pendidikan Al-Qur’an. Guru dituntut mampu menciptakan suasana belajar yang membuat generasi penerus merasa nyaman dan memiliki ketertarikan untuk terus mempelajari Al-Qur’an.
Hal senada disampaikan Ade Irham Nurfaisal. Ia mengungkapkan bahwa keseragaman pemahaman para pendidik menjadi salah satu hal penting dalam penerapan Metode Tilawati. Dengan pemahaman yang baik, guru diharapkan dapat menerapkan metode tersebut secara lebih terarah dalam kegiatan pembelajaran.
“Refreshment ini penting untuk menyamakan kembali pemahaman para guru mengenai Metode Tilawati, baik dari sisi konsep maupun praktiknya. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan, para pendidik dapat menerapkannya dengan lebih baik sesuai dengan kondisi peserta didik di masing-masing tempat,” ungkap Ade.
Ia menjelaskan, proses pembelajaran Al-Qur’an membutuhkan konsistensi dari seorang pendidik. Selain menyampaikan materi, guru juga memiliki peran dalam membangun suasana belajar yang menyenangkan sehingga peserta didik tidak merasa terbebani ketika mempelajari Al-Qur’an.
Ade berharap, pelatihan tersebut tidak berhenti pada pemahaman selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh para peserta. Dengan demikian, manfaat pelatihan dapat dirasakan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran generasi penerus LDII Kota Bandung.
Sementara itu, Tri Sugiharto selaku Dewan Pembina Tenaga Pendidik menyampaikan bahwa peningkatan kualitas pendidik merupakan bagian penting dalam pembinaan generasi penerus. Menurutnya, guru memiliki posisi strategis karena berinteraksi secara langsung dengan generasi yang sedang tumbuh dan berkembang.
“Guru memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi penerus. Karena itu, peningkatan kompetensi dewan pendidik perlu dilakukan secara berkelanjutan, salah satunya melalui kegiatan pelatihan dan penyegaran seperti ini,” jelas Tri.
Ia menuturkan bahwa mengajarkan Al-Qur’an bukan sekadar menyampaikan kemampuan membaca, tetapi juga merupakan bagian dari proses membangun kecintaan generasi penerus terhadap Al-Qur’an. Oleh karena itu, para pendidik perlu terus meningkatkan kemampuan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal.
Tri berharap kegiatan tersebut dapat memberikan bekal bagi para guru untuk semakin baik dalam mendampingi generasi penerus. Menurutnya, ketika proses pembelajaran dilakukan dengan metode yang tepat dan didukung oleh pendidik yang kompeten, diharapkan akan semakin banyak generasi penerus yang dekat dengan Al-Qur’an.
“Harapannya, para pendidik dapat membawa hasil pelatihan ini ke lingkungan masing-masing dan menerapkannya secara konsisten. Dengan begitu, pembelajaran Al-Qur’an dapat semakin baik dan generasi penerus semakin dekat serta cinta terhadap Al-Qur’an,” ungkap Tri.
Melalui kegiatan Pelatihan/Refreshment Training Metode Tilawati tersebut, LDII Kota Bandung berupaya membangun kualitas tenaga pendidik yang mampu mengikuti dinamika perkembangan generasi penerus. Peningkatan kompetensi guru diharapkan berjalan seiring dengan upaya menciptakan pembelajaran Al-Qur’an yang efektif, menyenangkan, dan berkesinambungan.
Pada akhirnya, penguatan kapasitas para pendidik diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas proses belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar membentuk generasi penerus yang dekat dan cinta terhadap Al-Qur’an, sehingga nilai-nilai Al-Qur’an dapat terus hidup dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.
Tulis komentar